Posted in Country

Turki

Turki, sebuah negara yang tidak pernah terlintas di fikiran saya sebelumnya. Alasannya karena Turki bukanlah negara impian yang ingin saya kunjungi. Mendengar tentang Turki pun jarang, lingkungan sekitar saya lebih banyak membicarakan Eropa atau Amerika. Negara – negara yang ingin saya kunjungi pun lebih banyak terdapat di Eropa. Kalaupun saya pernah tertarik dengan Turki, lebih tepatnya Istanbul, itu hanya terjadi saat final liga champions2005 klub kesayangan saya Ac Milan vs Liverpool. Waktu itu pun hanya sebatas mencari informasi soal stadion yang akan digunakan untuk bertanding. Waktu drama asal Turki sempat ditayangkan di Indonesia pun, saya tidak tahu karena saya memang sudah tidak menonton televisi lagi sejak beberapa tahun yang lalu.

final champions leauge 2005 in Istanbul

Waktu tinggal di Belanda, saya sering mendengar tentang Turki, akan tetapi lebih ke cerita tentang bagaimana orang Turki yang tinggal di Belanda ataupun soal makanan Turki yang harus saya coba di Belanda. Tapi sepertinya saya memang berjodoh dengan Turki. Kenapa saya bilang begitu? Karena saya menikah dengan orang Turki. Suami saya lahir, besar dan tinggal di Belgia, akan tetapi dari keluarga Turki yang memang sudah lahir dan tinggal juga di Belgia. Apakah menikah dengan  orang Turki membuat saya akhirnya  menyukai Turki dan tertarik mencari tau hal tentang Turki? Jawabannya tidak. Karena saya tidak tertarik dengan Turki pada saat itu.

Selain karena suami saya memang tidak meminta saya untuk mempelajari tentang Turki, bahkan suami saya lebih menyuruh saya les Bahasa Belanda bukan Bahasa Turki. Menurut suami saya, karena kami tinggal di Belgia, akan lebih baik kalau saya memantapkan Bahasa Belanda saya. Padahal mayoritas keluarga suami saya berbahasa Turki, akan tetapi karena saya satu – satunya menantu yang tidak berasal dari Turki, mereka berbahasa Inggris atau Belanda kalau berbicara dengan saya. Saya dan suami pun selalu menggunakan Bahasa Inggris atau Belanda.

Saya dan suami tidak pernah memaksa satu sama lain untuk belajar bahasa dan kebudayaan dari negara asal kami. Karena menurut saya untuk sekarang ini belum begitu perlu, selain kami tidak tinggal di Indonesia ataupun Turki, akan lebih baik kalau saya belajar tentang negara yang jadi tempat tinggal kami sekarang. Wacana untuk pindah ke Turki atau Indonesia sebenarnya ada, akan tetap hanya untuk rencana pensiun kami kelak.  

view from above the Galata tower

Untuk sekarang Turki adalah negara yang saya dan suami datangi setiap tahun untuk winter holiday. Kenapa kita tidak ke Turki waktu summer holiday, karena sudah beberapa tahun ini bulan Ramadan selalu pada saat musim panas. Suami saya lebih suka menjalani Ramadan di Indonesia di bandingkan di Belgia. Suami saya bilang di Indonesia lebih terasa suasana Ramadan di banding di Belgia. Selain itu winter holiday di Turki lebih menyenangkan karena tidak begitu banyak turis. Masih tetap ada tetapi tidak seramai pada saat summer holiday.

topkapi palace

Turki menjadi salah satu negara favorite saya untuk liburan, karena menurut saya setiap kota di turki punya keunikan tersendiri yang bisa di explore waktu liburan kesana. Mulai dari museum hoping di Istanbul, lalu main ski di uludag, Bursa sampai ke Trabzon di daerah laut hitam.  Makanan Turki pun sangat cocok dengan lidah saya. Malah makanan turki yang biasa saya makan di Belanda atau Belgia kalah jauh dibanding yang di Turki. Suami saya bilang karena makanan yang dibuat di turki lebih fresh dan original. Sama seperti rendang yang saya makan di restaurant Indonesia di Belanda, kalah jauh dibanding rendang buatan ibu saya ( menurut saya). Fyi, kebab yang biasa ada di Indonesia jauh berbeda dengan kebab Turki di Belanda dan Belgia, kebab yang biasa ada di Indonesia, biasa di sebut Durum.

Hagia Shopia
Dolmabahce Palace

Akhir tahun ini pun saya dan suami memutuskan untuk liburan ke Turki lagi, kali ini kami akan ke Istanbul dulu sebelum ke kota lainnya. Selain karena saya kangen suasana Istanbul, saya juga kangen makanannya.

So if you going to Turkey, which city you want to explore? And why?

xo

Posted in Review

The Body Shop Tea Tree Oil

Sudah hampir 2 minggu ini wajah saya berjerawat. Sebagai pemilik kulit tipe normal dan berminyak di daerah sekitar dahi dan hidung, ( biasa disebut T- zone ) saya jarang berjerawat. Kalau pun ada jerawat, cuma satu atau dua saja. Itu pun hanya tumbuh waktu bulanan saya akan datang, malah kadang tidak ada jerawat yang tumbuh. Akan tetapi, dua minggu ini banyak jerawat yang tumbuh di sekitar pipi dan wajah. Jerawatnya besar dan perih.

Setelah mencoba menghentikan pemakaian beberapa produk, akhirnya saya mengetahui alasan kenapa wajah saya tiba – tiba berjerawat. Semua karena saya sedang mencoba toner baru yang ada kandungan Alpha Hydroxy Acids (AHA) nya. Kulit saya memang tidak cocok dengan skincare yang ada kandungan AHA nya. Dua tahun lalu pun saya pernah mencoba toner yang ada kandungan AHA nya juga, alhasil saat itu wajah saya langsung berjerawat juga, tapi hanya di sekitar hidung saja. Mungkin waktu itu tidak seprah sekarang karena toner yang waktu itu saya coba, tidak begitu tinggi kandungan AHA nya.

Karena skincare yang saja gunakan tidak untuk kulit yang berjerawat, akhirnya saya memutuskan membeli spot treatment tea tree oil dari The Body Shop. Sebenarnya saya sudah lama tau tentang produk ini, akan tetapi karena jarang berjerawat, saya tidak pernah mencoba produk ini. Sebelum saya ceritakan bagaimana efeknya terhadap kulit saya, saya akan jelaskan apa itu tea tree oil seperti yang saya sadur dari Wikipedia:

Tea tree oil, also known as melaleuca oil or ti tree oil, is an essential oil with a fresh camphoraceous odor and a colour that ranges from pale yellow to nearly colourless and clear.It is derived from the leaves of the tea tree, Melaleuca alternifolia, native to Southeast Queensland and the Northeast coast of New South Wales, Australia.

Seperti yang tertulis di Wikipedia, tea tree oil ini memang mempunyai bau yang agak menyengat, menurut saya baunya hampir seperti minyak kayu putih tapi kalau memang sudah biasa dengan minyak kayu putih maka bau tea tree ini tidak akan begitu  jadi masalah. Cara pemakaiannya pun cukup dengan meneteskan produk ke ujung jari atau cotton bud, lalu oleskan ke jerawat yang sedang aktif ( cukup ke bagian yang ada jerawat saja ) sambal di tepuk – tepuk perlahan setelahnya.

IMG_6306
it said suitable for blemished skin but normal skin like me still can used it

Karena ini baru pertama kalinya saya menggunakan produk ini, pada tiga hari pertama saya tidak menggunakan skincare apapun, hanya tea tree oil ini yang saya oleskan pada jerawat di wajah saya. Hasilnya memang tidak terlihat dalam semalam, saya baru merasakan jerawat saya mulai kering dan tidak perih lagi di hari kedua. Pada keesokan harinya, selain mengoleskan pada wajah yang berjerawat,  saya  juga mencoba mengoleskan pada bagian lain wajah saya yang terdapat bekas jerawat, ( tetap tidak menggunakan skincare apapun ) cara ini juga saya lakukan selama tiga hari berturut – turut. Hasilnya diluar ekspektasi saya, selain jerawat saya yang sudah kering , bekas jerawat saya yang lama pun terlihat memudar.

Pada hari ketujuh, saya mencoba memakai rangkaian skincare rutin saya seperti biasa, tetapi saya baru memakai tea tree oil pada malam hari setelah memakai sleeping mask. Pagi harinya jerawat saya yang sudah kering tetap kering, tidak meradang lagi. Tea tree oil yang saya oleskan pun sudah menyerap dengan sempurna walaupun saya pakai diatas skincare yang sudah berlapis- lapis. Tetapi saya merasakan  pada bagian bekas jerawat yang juga saya oleskan tea tree oil, masih terasa tea tree oilnya alias tidak menyerap semuanya.

Setelah selama seminggu memakai produk ini, yang paling penting saya rasakan kalau jerawat saya yang sudah dua minggu meradang, sudah tidak ada lagi, bahkan tidak meninggalkan bekas. Bekas jerawat saya yang sebelumnya pun sudah lebih memudar. Satu poin penting adalah wajah saya tidak menjadi kering atau kusam walaupun tidak memakai skincare selama enam hari berturut- turut, tidak memakai skincare disini, yang saya maksud benar – benar tidak memakai apapun selain facial wash dan tea tree oil, bahkan saya juga tidak memakai sunscreen.

IMG_6307
setelah seminggu pemakaian

Jadi walaupun target dari produk ini lebih ke yang mempunyai kulit berminyak dan  berjerawat, tetapi kulit kombinasi seperti saya pun cocok, padahal bagian pipi saya , dimana terdapat  jerawat dan bekas jerawat, cenderung normal ke kering.

Untuk soal harga, semua tergantung perspektif masing – masing. Akan tetapi The Body Shop Tea Tree oil ini menurut saya,  harga sebanding dengan hasil yang saya rasakan. Ukurannya  dimulai dari yang 10ml sampai 20ml, memang kelihatan tidak banyak, tetapi untuk ukuran spot treatment yang hanya digunakan apabila ada jerawat yang akan atau sudah tumbuh, ini sudah cukup banyak. Bahkan mungkin bisa bertahan sampai satu tahun pemakaian.

Seperti produk The Body Shop yang lain, botol tea tree oil ini terbuat dari kaca, cara buka tutup botolnya cukup dengan menekan sedikit dan putar ke arah kiri. Cukup nyaman untuk dibawa travelling karena botolnya kecil dan cukup aman tanpa takut isinya akan tumpah. Walau saya belum pernah mencoba untuk membawa travelling ke luar negeri tapi karena waktu membeli produk ini saya sedang staycation di luar kota, waktu saya masukkan ke pouch dan diletakkan di dalam koper, waktu sampai dirumah saya tidak melihat adanya tea tree oil yang merembes keluar.

Karena jerawat saya bias dibilang sudah tidak ada lagi, saya memutuskan berhenti memakai produk ini setelah tujuh hari pemakaian, serta kembali lagi memakai rangkaian skincare yang biasa saya pakai. Semoga tulisan ini bisa berguna bagi yang sedang bingung atau mencari spot treatment untuk masalah jerawat.

xo